6
August2015
Evolusi dari email marketing
Evolusi Email Marketing

Sekitar setengah abad yang lalu, Ray Tomlinson mengirim email pertamanya. Sejarah email itu mengiringi perubahan fungsi email yang kini mengalami evolusi sebagai email marketing. Selama ini email telah berkembang menjadi salah satu tools efektif untuk menjalankan sebuah strategi marketing. Tidak hanya metodenya yang cepat dan murah, tetapi email marketing juga telah membuka pintu untuk marketers agar dapat memantau perilaku konsumen dengan cara yang mungkin tidak pernah dilakukan sebelumnya.

Evolusi Email Marketing dari Waktu ke Waktu

Sempat dilabeli sebagai ‘Mr. Spam’, Gary Thuerk, seorang marketing manager di Digital Equipment Corp, memulai pengiriman email komersial dengan mengirimkan email massal pertama. Memang itu hanya beberapa ratus jumlahnya, tetapi di eranya jumlah sebesar itu sudah termasuk kategori surat massal.

Pada 1978, Gary Thuerk mengirim email mempromosikan mesin DEC kepada 400 pengguna melalui Arpanet. Hal itu kemudian menjadi hal baru bagi penerimanya (menerima pesan penjualan/pemasaran langsung ke inbox komputer mereka) dan mampu menghasilkan nilai penjualan sampai $13.000.000 untuk mesin DEC. Sejak awal, email diluncurkan sebagai saluran yang efektif untuk pemasaran langsung.

Pada 1991, pengenalan internet benar-benar merevolusi bagaimana cara orang akan hidup, bekerja, dan bermain. Untuk marketers di seluruh dunia, ini adalah cara baru komunikasi massal. Ketika Hotmail (kemudian dikenal sebagai HoTMaiL) diluncurkan sebagai web pertama layanan email gratis, itu memberi marketers cara baru untuk menjangkau pelanggan. Sebelumnya, email hanya tersedia untuk pelajar atau pegawai. Pengenalan alamat email pribadi (yang gratis dan tersedia untuk semua) pun berubah jadi pemasaran secara langsung.

1990 ke belakang, pemasaran langsung B2C telah banyak dilakukan melalui pos atau telepon. Padahal, kedua metode itu sangat mahal. Melalui email, marketers kini mendapat biaya yang efektif, serta cara yang cepat untuk menjangkau konsumen. Hal itu terlihat sebagai solusi dari semua permasalahan pemasaran massal; hari penyebaran email marketing pun dimulai.

Kembali ke 1990-an, email masih dilihat sebagai suatu hal yang baru bagi konsumen; tetapi karena semakin banyak marketers mulai merambah ke strategi ini, inbox segera dipenuhi oleh surat-surat yang tidak diminta. Lalu, diberlakukanlah regulasi yang mana mulai disediakan fitur untuk melindungi konsumen dari ‘Spam’.

Pada tahun 1998, Data Protection Act, Undang-Undang Perlindungan Data diperbarui untuk memastikan semua email marketing termasuk opt-out. Lalu, pada tahun 2003, CAN-SPAM Act diperkenalkan di Amerika Serikat dan ditetapkan peraturan pertama untuk email komersial. Pada tahun yang sama pula, peraturan privasi dan komunikasi elektronik diperkenalkan untuk menegaskan peraturan izin pemasaran di Eropa. Selanjutnya, pada tahun 2004, Sender Policy Framework (SPF) diperkenalkan untuk menyediakan sistem validasi email agar dapat membantu mencegah email spam dengan memverifikasi alamat IP pengirim.

Selama periode ini, volume email marketing yang disampaikan mulai meningkat pesat, mengubah lingkungan email ke medan pertempuran virtual antara pengirim dan penerima email.

Pada tahun 2004, AOL telah mulai menyerahkan kembali tanggapan penerima untuk beberapa penyedia layanan email, dengan Hotmail dan Yahoo memperkenalkan skema feedback dari penerima. Kemudian, marketers dapat melihat apa yang penerima pikirkan saat menerima email mereka dan dapat menggunakan keluhan spam sebagai metrik–parameter atau ukuran proses.

Lambat laun, ISP telah memperkenalkan berbagai metode untuk melindungi pelanggan dari email yang tidak diinginkan. Windows Live Sender Reputation Data (2008) memungkinkan penerima untuk memilih apakah email adalah spam atau tidak; Hotmail Sweep dan Google’s Priority Inbox (keduanya pada 2010), diciptakan untuk membantu penerima dari kekacauan inbox mereka. Perkenalan seperti ini telah menyebabkan marketers email menjadi lebih strategis jika mereka ingin membuat pesan mereka diperhatikan. Metode yang dirilis pada waktu yang sama oleh beberapa organisasi marketing telah memaksa marketers untuk lebih fokus pada strategi mereka jika mereka ingin menjadi sukses.

Pada tahun 2009, Return Path melaporkan hampir 30% dari email komersial yang dikirim ke penerima tidak mencapai kotak masuk; pada tahun yang sama, Merkle melaporkan kurangnya relevansi adalah alasan terbesar pengguna memutuskan untuk opt-out dari email. Penerima mampu mendikte email apa yang mereka pilih untuk diterima dan diberikan kekuatan untuk memblokir yang mereka tidak inginkan. Email mulai berkembang sebagai strategi penarik pelanggan, bukan strategi yang memaksa.

Selama ini diketahui bahwa tidak terlalu cukup baik untuk mengirim email dan berharap itu akan mencapai inbox, lalu dibuka. Jika marketers ingin email mereka bisa disampaikan dengan baik, dibuka, dan dibaca, mereka harus memilih cara-cara yang strategis demi sesuatu yang mereka kirimkan.

Marketers mulai menyadari bahwa mereka perlu untuk menjaga reputasi email mereka atau mereka bisa berakhir pada daftar hitam penerima atau dalam folder sampah. Dalam rangka menjaga reputasi marketers email, mereka perlu memastikan bahwa mereka melibatkan penerima secara peduli.

Sedikit kilas balik pada tahun 1992, ponsel pintar pertama yang memungkinkan akses email melalui ponsel diluncurkan, dan pada tahun 2007, Apple merilis iPhone pertama. Pada tahun 2011, Apple mengumumkan telah menjual lebih dari 100 juta iPhone dan email pada tahun yang sama dilaporkan telah digunakan oleh 75% dari pemilik iPhone di Inggris. Itu membuatnya menjadi aktivitas internet paling populer di telepon. Dalam hal ini, Apple turut andil dalam membuka gerbang pemakaian email secara umum dan luas.

Pada tahun 2012, dilaporkan lebih dari 40% email marketing dibuka pada perangkat mobile. Dengan begitu banyak penekanan, dinyatakan bahwa konsumen membaca email melalui mobile. Marketers akhirnya dipaksa untuk berpikir lebih jauh tentang bagaimana email mereka melakukan penyesuaian pada ponsel.

Sekarang media sosial juga berdampak pada email marketing. Pada tahun 2006, Facebook diluncurkan secara gratis kepada publik (kepada siapa pun yang lebih dari 13 tahun). Pada akhir 2007, media sosial tersebut memiliki lebih dari 100.000 halaman bisnis, yang memungkinkan perusahaan untuk menarik pelanggan potensial. Konsumen sekarang bisa berinteraksi dengan suatu brand melalui beberapa saluran; online, toko fisik, media sosial, dan email.

Dengan ledakan pemasaran digital yang begitu pesat, baik melalui media sosial maupun melalui perangkat mobile, konsumen mulai mengharapkan hal yang lebih. Seketika urgensi pengumpulan data dan manajemen data menjadi sangat penting.

Apa yang dimulai sebagai strategi pemasaran massal murni telah berkembang menjadi strategi bagi pelanggan dan pengembangan brand. Strategi email telah berevolusi untuk fokus pada kebutuhan khusus dan keinginan setiap individu.

Kini pemasaran dengan sistem otomatisasi memungkinkan segmentasi pasar yang melebar untuk mengirim komunikasi email yang ditargetkan. Konten komersial dan edukatif telah diperkenalkan untuk membuat kesan antara pengguna dan brand semakin dekat; dan dengan lebih menekankan pada relevansi serta keterlibatan dalam rangka mencapai reputasi email yang baik. Kualitas telah menggantikan kuantitas sebagai pendekatan strategis untuk operasional email marketing.

Membangun strategi marketing kini tidak lagi hanya secara offline, tetapi juga merambah ke ranah online. Begitupun strategi email marketing, terus berevolusi dari waktu ke waktu dan tentunya akan semakin membantu bisnis kita ke depannya. Untuk itu, kita bisa menggunakan free email marketing agar mampu mengoptimalkan bisnis kita.

3 thoughts on “Evolusi Email Marketing”

Leave a Reply