18
June2015

Resending Email

Metode resending email pernah melalui sebuah test, hasilnya menunjukkan bahwa email kedua dapat mencapai 53,2% orang lebih dan mendapati 32,6% unique opens. Statistik yang mengesankan memang, tapi jangan besar kepala dulu. Memang benar bahwa statistik tidak dapat berbohong, tapi bayangkan jika semua pemain marketing memakai strategi ini? Akan ada dunia di mana inbox sudah penuh sesak dan spam traps lebih efisien daripada sebelumnya. Berikut ini adalah alasan-alasan mengapa tim marketing Anda perlu untuk berpikir dua kali sebelum mengirim email ulang (resending email).

Ini bukanlah sebuah pendekatan yang berkelanjutan.

Meskipun tes pertama dapat menjaga rating unsubscribe tetap normal, Anda akan tetap melipatgandakan resiko kehilangan kontak dalam database Anda. Dan seperti pertanyaan seputar marketing pada umumnya, karena hal tersebut dapat bekerja dalam beberapa percobaan awal, bukan berarti bahwa pengaturan inbox akan selamanya terjaga.

Mengirim ulang email yang sama akan membuat penerima email mengalami kepenatan dan menyebabkannya ditandai sebagai spam atau masuk ke daftar hitam (blacklist).

Masalah Engagement

Para re-sender memperhatikan, mereka meningkatkan email agar mendapatkan sedikit perubahan pada subject email, penempatan, dan pewarnaan pada tombol. Jadi, jika penerima email atau customer memang menghapus email sejak pertama kali, mereka bahkan akan lebih terganggu jika Anda berusaha memaksa mereka untuk membacanya ulang. Jangan buat mereka untuk menghapusnya lagi, atau lebih parahnya, meng-unsubscribe Anda.

Email berikutnya tidak pernah lebih baik dari email yang pertama. Hasil dari beberapa sampel email kampanye mendapati penurunan 44% open rate, dan 46% penurunan click-through rate pada email kedua. Hal ini mungkin karena kelompok email yang kedua lebih mewakili para pembaca yang tidak aktif.

Penurunan besar dalam rata-rata open rate dan click-through rate dapat memiliki dampak negatif pada deliverability Anda dalam jangka yang panjang. Jika ISP melihat bahwa Anda masih melanjutkan mengirim email pada pengguna yang tidak ingin berhubungan dengan Anda, reputasi Anda bisa hancur. Apakah Anda siap menerima resiko ini?

Pendekatan Alternatif

Daripada meningkatkan kesempatan pemasukan pada kotak masuk dengan frekuensi pengiriman, Kami menyarankan Anda meningkatkan kesempatan deliverability dengan mengoptimasi waktu yang terbaik untuk mengirim email.

Pemilihan waktu yang tepat adalah segalanya dan selama Anda berargumen bahwa email yang kedua dijadikan sebagai reminder (pengingat), menyesuaikan email Anda agar dikirim pada waktu tepat tentunya akan lebih efisien.

Ada beberapa perusahaan yang mengirimi email pada customer mereka setiap hari, tapi mereka mengirimi email tersebut dengan jangka waktu 24 jam dari email terakhir dibuka atau diklik. Menjadi lebih sensitive dengan tidak memborbardir customer Anda adalah kuncinya.

Untuk para penerima email yang sama sekali tidak menjanjikan, strategi yang terbaik adalah dengan secara berkala berhenti mengirimi email tersebut dan pada periode tertentu kembali lagi dengan membawa konten yang lebih relevan dan sesuai.

Meskipun angka yang dijanjikan begitu menggiurkan jika melakukan resending, metode lain seperti memonitori waktu pengiriman yang tepat secara seksama, dapat memberikan preferensi penting dan memberikan ekspektasi yang tepat sesuai dengan konten dan frekuensi pengiriman email menjadi lebih etis, efisien, dan kurang berisiko.

Dan seperti biasanya, Anda harus melakukan tes pada waktu pengiriman Anda, subject email, dan setiap bagian dari email kampanye Anda sehingga memberikan kerja maksimal dalam membantu mengoptimasi pengiriman Anda.

Sudah memahami penjelasan di atas? Anda bisa segera menerapkannya dengan free email marketing dari DocoBlast!

Leave a Reply